Jumat, 25 Juli 2008

Cara Instant, Hasil Instant

oleh at tighaliy

Banyak orang gemar mengkonsumsi makanan instant. Selain mudah dan waktu pemasakan yang pendek, rasa pun okey. Namun, setiap makanan instant pada umumnya juga mengandung banyak bahan tambahan makanan yang bisa memberikan efek negatif terhadap tubuh.
Entah ada atau tidak hubungannya. Kegemaran masyarakat mengkonsumsi makanan instant juga menusslar dengan cara masayarakat mencari kebenaran (ilmu agama/pengetahuan). Instant yang dimaksud adalah tidak mau bersusah payah atau sekedar menginginkan waktu yang relatif cepat dalam mencari atau memahami kebenaran. Masyarakat, yang mungkin di dalamnya kita juga termasuk, banyak mengetahui ilmu agama dalam berbagai bentuk, pada umumnya berupa kesimpulan akhir. Kesimpulan ini tentunya merupakan hasil dari proses memahami yang merupakan hasil dari interpretasi seseorang dari sekian banyak input agumen-argumen (ilmu-ilmu) yang dicoba untuk diaplikasikan dan tentunya melalui kaidah tertentu.
Bagaikan makanan instant, pengetahuan instant-pun diminati karena waktu untuk mendapatkannya relatif lebih cepat, atau bahkan lebih mudah. Namun apakah pengetahuan yang instant akan memiliki efek yang sama terhadap ‘tubuh’ seperti makanan instant yang cenderung memberikan efek negatif bagi tubuh? Bukan pada validitas kebenaran itu sendiri yang dikhawatirkan dari proses instant mencari kebenaran, melainkan bentukan sikap yang dihasilkan.
Hal yang menarik adalah ketika kita mencoba membaca pola masyarakat ketika menyikapi perbedaan. Sadar atau tidak, masyarakat kita terkadang atau bahkan sering menyikapi dengan ‘membuta’. Jangankan memahami masalah, memahami sikap pun patut dipertanyakan. Pada umumnya anggota masyarakat cenderung mengikuti kelompok masyarakat tertentu yang menkonsumsi pengetahuan instant dengan bentuk dan ‘rasa’ yang sama.
Kebiasaan sikap yang hidup dalam lingkungan yang tak dibiasakan untuk mengambil sikap dalam berbagai pilihan yang ada semakin mengkondisikan sikap ‘membuta’ ini. Mulai dari masa kanak-kanak hingga remaja (atau bahkan dewasa), tindakan pemaksaan sering menjadi ‘makanan’ sehari-hari dalam masa pendidikan. Lihat saja orang tua yang membelikan makanan atau mainan kepada anaknya, pada umumnya anak langsung dipilihkan tanpa diberi kesempatan untuk memilih makanan ataupun mainan yang disukainya. Orang tua pun semakin mempertahankan cara seperti ini karena relaif menghabiskan waktu yang lebih cepat untuk ‘sekedar’ membelikan kebutuhan anaknya bahkan sangat dimungkinkan dilanjutkan hingga masa dewasa karena bangga memiliki anak yang penurut. Namun akibat yang tak bisa dipungkiri adalah anak akan terbiasa untuk ‘dipilihkan’ dan ‘menerima’ apapun tanpa ada rasa ingin tahu, apakah ada pilihan lain yang boleh saya pilih? apakah pilihan itu lebih baik dan cocok bagi saya atau tidak? Hasilnya, ketika anak berada dalam lingkungan baru, sebuah lingkungan yang menyediakan banyak pilihan berbeda, ia mungkin akan memilih seperti yang pernah dipilih orang tuanya atau pilihan orang-orang yang dipercayainya tanpa pernah ingin mengetahui ada apa dan bagaimana dengan pilihan lainnya. Ia alergi dengan perbedaan.
Parahnya, seiring berjalannya waktu, saking percayanya anggota kelompok terhadap kelompoknya, alasan dan dasar pengambilan sikap tak lagi menjadi bahan yang semestinya juga tetap dikritisi. Pengkritisan cara interpretasi memang bukan perkara mudah dan yang pasti waktunya tidak sebentar, sehingga interpretasi diserahkan pada seseorang yang dikatakan ‘ahli’ dalam kelompok tersebut.
Dua kata kunci yang menjadi masyarakat merelakan untuk menjadi sekedar pengikut hasil interpretasi (kesimpulan) yaitu tidak mudah dan waktu tidak sebentar. Dua hal yang merupakan pembeda dari ‘instant’ dan ‘tidak instant’. Ke’instant’an ini hanya akan menjadikan masyarakat pemalas, buta akan apa yang diucap dan diperbuat. Semua diserahkan pada sang ‘ahli’, dan yang lebih parah lagi merasa diri (dan kelompok) paling benar.
Ke’instant’an ini menjadikan masyarakat menjadi pengekor. Akibatnya, masalah dipahami dengan mudah (sederhana) dan waktu yang (terlalu) cepat, atau bahkan masalah disikapi tanpa proses ‘memahami’ sedikitpun, semua diserahkan pada sang ‘ahli’ yang dihormati dalam kelompok tersebut. Akhirnya terbentuklah suara kelompok dan sikap kelompok inilah yang justru akan dikedepankan dalam menyikapi perbedaan.
Jika sang ‘ahli’ boleh menginterpretasikan, kenapa kita tidak. Bukankan sang ‘ahli’ manusia seperti kita juga? Jika sang ahli menjadi ‘ahli’ karena memilih untuk tidak instant, memilih untuk tidak mudah dan memerlukan waktu yang lama untuk bersikap, berucap dan bertindak, maka bagi siapapun yang memilih cara ini bolehlah kiranya mengambil sikap yang berbeda, karena ini pun hasil interpretasi.
Jika suatu kesimpulan berangkat dari pemahaman, maka kita harus berangkat dari asal pemahaman itu sendiri. Asal pemahaman dalam Islam (menurut saya) adalah Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw, dan untuk memahami asal pemahaman ini diperlukan ilmu asal pemahaman. Memahami Al Quran tidak cukup membaca terjemahan saja, tidak pula sekedar mengeri bahasa arab yang biasa digunakan dalam percakapan. Menurut Al Qaththan, pemahaman yang baik terhadap Al Quran bergantung pada penguraian mufrodat, lafazh-lafazh dan pengertian-pengertian yang ditunjukannya sesuai dengan struktur kalimat. Tentang syarat ini, Mujahid berkata, “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk berbicara tentang Kitabullah apabila tidak mengetahui bebagai dialek bahasa Arab”. Selain bahasa Arab, sebab-sebab turunnya Al Quranpun dan kaidah-kaidah para mufassir penting lainnya harus bisa dikuasai. Bagitu pula dengan memahami Sunnah Rasulullah saw, harus memiliki ilmunya.
Jika perbedaan sikap merupakan akibat dari perbedaan hasil interpretasi (usaha memahami), maka sebaiknya sikap saling menghormati dikedepankan. Selanjutnya, rasa saling menghormati ini diarahkan pada penyebab adanya perbedaan interpretasi, apakah sumber ilmu yang berbeda atau juga pembacaan masalah yang berlangsung yang tidak sama. Inilah yang semestinya dilakukan dalam menyikapi perbedaan. Kita mencari argumen-argumen dalam bersikap. Argumen yang baik tentunya kita peroleh dari pengetahuan yang tidak instant, yang tidak mudah dan tidak terlalu cepat (terburu-buru).
Ilmu Allah maha luas, dan yang diberikannya kepada kita, hanya ibarat setetes air dibandingkan dengan jumlah air di seluruh samudera. Jika setetes ini saja bagi kita sangat luas, ini menunjukkan kita hanya mengetahui sangat sedikit yang berarti pula banyak hal yang tidak kita ketahui. Jika banyak yang tidak kita ketahui, maka sangat memungkinkan sekali bagi kita untuk berbuat salah. Lalu apsa hak kita untuk merasa paling benar???

Tidak ada komentar: