Jumat, 01 Agustus 2008

DARI MANA KITA MEMULAI

oleh at tighaliy

Umat Islam adalah pendukung amanah, untuk meneruskan Risalah dengan dakwah, baik secara kolektif ataupun secara individu, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Firman Allah dalam Ali Imron, 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” Menurut M. Natsir, dakwah adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim dan muslimah. Dakwah dalam arti amar maruh nahi mungkar, adalah syarat mutlaq bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat.

Pertanyaan besar bagi para juru dakwah adalah, dari mana harus memulai dakwah itu. sebuah pertanyaan yang lazim bagi mereka yang memiliki semangat tinggi untuk merubah masyarakat menuju ‘amar ma’ruf nahi mungkar. Apa yang harus dilakukaan pertama kali. Siapakah yang terlebih dahulu yang harus didakwahi, apakah orang yang memiliki pengaruh seperti pejabat, artis, pemain sepakbola, atau bahkan preman besar yang memiliki banyak anak buah dan pengikut? Atau juga dimulai dari siapapun yang memang mau dan siap menerima dakwah kita? Siapapun orangnya, tak menjadi masalah ketika kita berhasil mendakwahinya, atau setidaknya berusaha untuk melakukan perubahan terhadap orang tersebut, yang penting jangan sampai kita tidak melakukan dakwah.

Jika melihat urutan wahyu yang turun, mungkin dapat dijadikan gambaran langkah-lagkah teknis pelaksanaan dakwah itu sendiri. Wahyu yang pertama turun adalah suar Al-‘Alaq, ayat 1-5 (Ash Shidiqy,1992). “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakanmanusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya

Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) justru diberi perintah untuk membaca. Quraish Shihab menjelaskan, kata iqra terambil dari akar kata yang berarti “menghimpun”. Sehingga tidak selalu harus diartikan “membaca teks tertulis dengan aksara tertentu”. Dari “menghimpun” lair aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca, baik teks tertulis mapun tidak. Al hasil objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya. Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-ulangi bacaan, atau membaca hendaknya dilakukan sampai batas maksimal kemampuan, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan Bismi Rabbika (demi karena Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca itu-itu juga. “membaca dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama dalam pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban”

Wahyu yang kedua turun adalah Surat Al Mudatstsir, 1-10 (Ash Shidiqy,1992), “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhan-mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kami memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi Perintah) Tuhan-mu bersabarlah, Apabila ditiup sangsakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) haru yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.

Qum faandzir, bangun dan berilah peringatan. Setelah kita “membaca”, maka kita tak boleh diam, kita harus memberi peringatan, perubahan perlahan demi perlahan. Jangan sampai kita terjebak dalam kehidupan yang penuh ketidakpedulian dengan lingkungan. Perubahan dilakukan dengan seksama, konstruktif, dan bertahap. Perubahan seperti ini sangat mungkin terwujud jika proses “membaca” memang benar-benar dilakukan secara komprehensif sehingga setiap informasi yang menjadi alasan, dorongan, dan tujuan bertindak menjadi jelas.

Tapi dari mana memulai perubahan itu, jika kita hubungakan pada surat Asy syu’ara ayat 214 yang turun setelah Adl Dluha dan Al Hajr 94 (Ash Shidiqy,1992), yaitu Waandzir asyiiratakal aqrobiina, Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dari ayat ini, jelas terlihat bahwa perubahan itu dimulai dari kerabat terdekat. M. Natsir dalam Fiqhud-Da’wah menterjemahkan ayat ini sebagai berikut, “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”, oleh karena itu menjadi pertanyaan besar bagi mereka yang memiliki kualitas sebagai juru dakwah yang terkenal di masyarakat luas namun bermasalah dalam lingkungan keluarganya sendiri, ataupun disekitar tetangga-tetangganya.

Memang banyak pembelaan dan pembenaran untuk ‘mengabaikan’ kerabat terdekat dalam berdakwah, antara lain adalah karena adanya skala prioritas dalam menentukan objek dakwah, mad’u, dimana ketika kerabat dinilai kurang mendukung jika dibandingkan dengan objek dakwah yang dinilai memiliki potensi lebih baik untuk pengembangan dakwah, maka dibolehkan untuk mendahulukan objek dakwah yang lebih berpotensi itu.

Namun, alangkah lebih baiknya jika kita memperhatikan surat Abasa, Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah s.a.w. membacakan kepadanya ayat- ayat Al Quran yang telah diturunkan Allah. tetapi Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum yang buta itu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap ibnu Ummi Maktum itu.

Terlepas dari masalah siapa yang harus didahulukan diberikan peringatan (dan juga pengajaran), ada hal yang lebih penting (menurut saya), adalah bahwa juru dakwah tidaklah cukup hanya memberikan pengajaran dengan lisannya saja. Tapi setiap juru dakwah sebaiknya memberikan contoh langsung, atau teladan yang baik. Lihat saja apa yang dicontohkan Rasulullah sesampainya di Madinah (konon belum memasuki kota) ketika mendirikan masjid di ‘quba, masjid pertama yang didirikan di zaman Islam. Beliau berhenti dengan tidak banyak bicara, tapi bekerja. Beliau mulai dengan mengangat batu besar hingga terhuyung-huyung. Salah seorang sahabat berkata, “Ya Rasululah, biarkanlah, serahkanlah kepadaku mengangkatnya! Rasulullah menjawab, “Tidak, ambil (saja) batu lain yang seperti itu”. Ada sindiran yang menarik untuk para juru dakwah, jika peringatan dari Allah hanya cukup disampaikan lewat lisan saja, maka cukuplah malaikat saja yang melakukan, tidak perlu ada nabi.

Hal yang tidak kalah penting adalah bagimana menumbuhkan iman objek dakwah itu sendiri. Jelas-jelas Al Quran menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Paksaan justru akan membuat orang menjadi hipokrit dan akan semakin banyak menghasilkan pemain-pemain sandiwara yang bersedia menurut dan tunduk, layaknya kerbau yang ditusuk hidungnya untuk dimasukkan tali pengendali. Menurut M. Natsir, Iman seseorang hanya dapat ditumbuhkan dalam suasana bebas, sunyi dari tekanan dan paksaan. Memang itulah pembawaan fithrah manusia. Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “hati bila dipaksa menjadi buta”.

Astaghfirullah al ‘adzhim

Wallahu a’lam bishshowab

1 komentar:

Nam's mengatakan...

tambah lagi artikel nya mas